Kamis, 2009 Juni 25

Kutipan The Sum of All Fears

Ambillah pelaut yang gagah, penerbang yang paling perkasa, atau prajurit yang paling pemberani, kumpulkan mereka di meja bersama-sama – apa yang akan kau dapatkan? Gabungan dari ketakutan mereka (Winston Churchill).

----------------------------------------------

Sejarah... menekankan secara spesifik bahwa pembantaian tersebut begitu luar biasa terutama karena pertempuran terjadi tanpa persiapan dan pemikiran yang mendalam (Herman Kahn, On Thermonuclear War).

----------------------------------------------

Ada beberapa, sangat sedikit, yang tetap bekerja di ruang darurat, menangani trauma dan semacamnya, sesudah semua orang patah semangat dan menyerah. Sebagian orang menikmati tekanan dan stres (Jack Ryan, The Sum of All Fears).

Salah untuk menekan Israel sebelum keprihatinan mereka terhadap masalah keamanan teringankan, dan keprihatinan mereka terhadap masalah keamanan tidak bisa diringankan sebelum beberapa masalah mendasar dibereskan terlebih dulu (Jack Ryan, The Sum of All Fears).

----------------------------------------------

Itu kota suci (Yerusalem) untuk tiga agama – anggaplah tiga suku – tapi secara fisik kota itu milik salah satu dari mereka. Suku yang satu itu sedang bertempur dengan salah satu suku yang lain. Kawasan yang mudah bergolak itu cenderung memaksa penempatan sejumlah pasukan bersenjata, tapi pasukan siapa?... Oh dan lupakan PBB. Israel tidak akan menyukainya karena Yahudi tidak berhasil di dalam lembaga itu. Orang Arab tidak akan menyukainya karena terlalu banyak orang Kristen di dalamnya. Dan kita juga tidak senang karena PBB tidak begitu menyukai kita. Satu-satunya lembaga internasional yang ada tidak dipercaya oleh semua pihak. Buntu (Jack Ryan, The Sum of All Fears).

----------------------------------------------

Pada waktu Muhammad dikejar-kejar oleh penganut paganisme pra-Islam hingga terpaksa meninggalkan Mekah, ia mendapat suaka di Biara St. Catherine di Sinai – sebuah biara Yunani Ortodoks. Mereka merawatnya sewaktu ia membutuhkan teman. Muhammad adalah pria terhormat; dan biara itu menikmati perlindungan dari kaum Muslim sejak saat itu. Selama lebih dari seribu tahun tempat itu tak pernah diusik sekalipun berlangsung berbagai kejadian menakutkan di kawasan tersebut, ada banyak yang bisa dikagumi dari Islam, Anda tahu. Pihak Barat sering kali tidak menyadarinya karena ada kaum fanatik yang menyebut diri mereka Muslim – seakan-akan kita sendiri tidak menghadapi masalah yang sama dengan kekristenan. Ada banyak keagungan di sana, dan mereka memiliki tradisi pembelajaran yang patut dihormati. Tapi tidak ada orang di sini yang tahu cukup banyak mengenai hal itu (Pater Tim Riley, The Sum of All Fears).

----------------------------------------------

Marcus, satu-satunya yang menyatukan Israel selama tiga puluh tahun terakhir adalah kebodohan pihak Arab. Entah mereka tidak pernah mengakui bahwa legitimasi Israel sepenuhnya hanya berdasarkan posisi moral itu, atau mereka sekadar tak cukup pandai untuk peduli. Israel sekarang menghadapi kontradiksi etis yang pelik. Kalau mereka memang negara demokrasi yangmenghormati hak-hak warga negaranya, mereka harus memberi hak yang lebih besar pada pihak Arab (Charles Alden, The Sum of All Fears).

Rabu, 2009 Juni 10

Upgrade ke Ubuntu 9.04

Tindakan upgrade ini merupakan kedua kali setelah upgrade ke 8.10 (hasilnya gagal). Untuk menghindari kegagalan beruntun, kali saya tidak memilih untuk me-replace file yang bersifat krusial, yang sayangnya tidak bisa saya lampirkan di sini.
Sebagai operating system dasar saya memilih Ubuntu Ultimate Edition 2.1, based Ubuntu 8.10. Hasilnya sungguh mengagumkan. Yang menjadi kendala dalam upgrade ini adalah koneksi internet yang mutlak ada, dan membutuhkan kecepatan setingkat broadband (pita lebar).
Untuk bisa menggunakan Ubuntu 9.04, saya membutuhkan waktu lebih kurang 5 jam pada jaringan speedy corporated.
FIUH !!!


Secara tampilan desktop, memang lebih bagus dari Ubuntu 8.10. Paket aplikasi seluruhnya ter-update otomatis. Pokoknya lebih keren dibanding Windows Vista, deh.
Hehehe...

Selasa, 2009 Juni 09

Andai saja OpenOffice Menyediakan Fasilitas Update Minor

Latar belakang dari penulisan ini karena pengalaman saya sewaktu melakukan update aplikasi OpenOffice.org. Ternyata update OpenOffice.org tidak sama dengan update Microsoft Office (apapun versinya).
Pada Microsoft Office, update aplikasi bisa dilakukan dengan hanya mengunduh patch (tambalan) yang biasanya berukuran kecil. Kalaupun besarnya patch melebihi ukuran biasa, pada kenyataannya tergabung pada service pack (sp).
Bagaimana dengan OpenOffice.org ?
Untuk setiap update OpenOffice.org, ternyata selalu tergabung dalam ukuran yang besar. Sebagai contoh peningkatan versi dari 3.0, lalu meningkat 3.0.1 – 3.0.2 – 3.0.3 hingga update mayor ke versi 3.1. Setiap keperluan update 3.0 ke 3.0.1 – 3.0.2 – 3.0.2, kita diharuskan mengunduh file dalam ukuran lumayan besar, mencapai puluhan Mb (untuk versi Windows). Kalau kita mengunduh OxygenOffice, besarnya file mencapai ratusan Mb (sama seperti ukuran installer Microsoft Office).
Jadi untuk setiap peningkatan versi untuk update minor saja, kita membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit (mengingat koneksi internet di Indonesia yang terbatas dan biaya pulsa yang masih mahal). Apalagi untuk kepentingan update mayor (dari versi 1 ke versi 2 hingga versi 3 dan seterusnya).
Apakah hal ini membuat saya tidak menggunakan OpenOffice.org ?
Salah besar !
Saya tetap menggunakan OpenOffice.org (pada Ubuntu 8.10 dan OxygenOffice pada Windows), walau untuk melakukan update aplikasi memerlukan perjuangan terbesar pada faktor waktu dan biaya. Memang sih, selain mengunduh pada situs resminya kita bisa melakukan pemutakhiran aplikasi tersebut melalui cara offline yaitu membeli majalah atau tabloid komputer yang menyediakan cd atau dvd bonus, dimana aplikasi OpenOffice.org tersedia di dalamnya.
Atau kita bisa meminta tolong teman yang memiliki keleluasaan penggunaan internet dan memiliki kecepatan akses di atas rata-rata untuk turut nimbrung mengunduhnya.
Yang paling penting adalah seberapa besar produktivitas kita atas penggunaan aplikasi tersebut selama ini. Kalaupun memang pemutakhiran aplikasi tidak dilakukan secara rutin tapi seluruh pekerjaan beres seluruhnya, ya sudah, kenapa harus dipusingkan ?
Tapi saya juga tidak memungkiri bahwa pemutakhiran sangat penting dilakukan, karena dengan adanya pemutakhiran tersebut segala perbaikan dan penambahan fitur (walau tidak digunakan pada keseharian) dilakukan oleh produsen untuk meningkatkan kinerja OpenOffice.
Andai saja OpenOffice Menyediakan Fasilitas Update Minor layaknya Microsoft Office.

Rabu, 2009 Mei 27

Mahir di Dunia Maya, Tetap Saja Takut Dengan Dunia Gaib

Kali ini saya ingin menulis yang ringan-ringan saja.

Tulisan yang ringan, tapi kok menyangkut alam gaib ???

Gampang saja, karena keduanya memiliki kesamaan. Yaitu tidak kasat mata namun terasa keberadaannya.

Selain itu angin pun bisa dikatakan fenomena gaib. Tidak terlihat namun terasa bisa berhembus.

Urusan dunia maya, kita sudah sangat mengenal dan akrab akan Google – Situs Berita Detik – Situs Berita Kompas – Situs Berita Tempo – Facebook – Blog (baik blogspot, wordpress, multiply, dll).

Tapi... walau kita sudah sangat akrab dengan dunia tidak kasat mata ini, tetap saja kita “merinding” dengan fenomena alam gaib. Masih ingat dengan acara televisi Gentayangan (TPI) dll ?

Saya beritahu akan betapa tidak menariknya alam gaib.

Dari saya kecil hingga sekarang, yang namanya “penampakan alam gaib” selalu bersifat statis. Misal hantu atau jin, dsb bisa terbang. Mereka selalu menampakkan rupa yang buruk dan menjijikkan. Belum lagi film Indonesia zaman dulu dengan peran Suzanna pada film Kuntilanak.

Sekarang pun, film Indonesia mulai ramai dengan film serupa namun dengan tokoh utama yang beragam. Tidak itu-itu saja. Sebut saja Julia Perez sebagai Hantu Jamu Gendong serta Beranak Dalam Kubur. Tapi julukan sebagai pemeran hantu tidak melekat pada Julia Perez.

Bagaimana dengan dunia maya ???

Jelas Dunia Maya sangat dinamis dan super elastis. Hampir setiap detik muncul karya-karya yang luar biasa (dari yang baik hingga buruk). Segala kecanggihan teknologi muncul, dan kita dibuat kagum olehnya. Saya sendiri bisa berkomunikasi kembali dengan teman SMA setelah 14 tahun tidak bertemu.

Saya juga tidak paham akan fatwa ulama yang mengharamkan Facebook !!!

Apakah sebelum mereka mengeluarkan fatwa haram sama sekali tidak mencoba Facebook dan bertemu dengan teman sepermainan mereka di kala SD-SMP-SMA-Universitas ???

Bagaimana perasaan mereka ketika bertemu kembali dengan sejawat yang telah lama tidak bertemu dan tidak tahu kabar beritanya ???

Di dunia maya, saya bisa berkomunikasi dengan belahan dunia manapun dalam hitungan detik. Juga tidak mengeluarkan biaya mahal dibanding menelepon melalui ponsel atau fixed phone menggunakan SLI.

Yang ingin saya sampaikan, janganlah kita takut akan alam gaib. Terbukti alam gaib tidak bisa berbuat apapun alias mati kutu terhadap dunia maya. Cerita alam gaib tidak seheboh dunia maya. Alam gaib merupakan alam yang ortodoks. Malah kita akan rugi sendiri akan perasaan takut yang berlebihan.

Tapi, bagi yang muslim, iman terhadap yang gaib (Sang Pencipta dan Malaikat) merupakan satu hal tidak dapat ditawar-tawar.

Artinya saya hanya memfokuskan pada alam gaib yang dipahami sebagai tempatnya para jin-setan-iblis-genderuwo-dll.


Setuju dengan saya ?!

Senin, 2009 Mei 25

What Happend With My Windows ???

Sudah tiga hari ini laptop saya gagal “menayangkan” Windows sebagaimana mestinya alias seringkali menampilkan blank screen (bukan blue screen of death). Padahal bootsplash berjalan dengan baik selanjutnya layar hitam tanpa ada reaksi apapun. Setelah saya memilih safe mode (biasanya pada saat booting awal kita tekan tombol F8 atau setelah GRUB pilihan Safe Mode akan tampak dengan sendirinya), barulah Windows berjalan dengan normal.

Ada trik yang berguna dari seorang rekan yang sangat berguna, yaitu kita bisa memilih “last seting bla...bla...”. Tapi pada kejadian terakhir, trik tersebut tidak berguna. Info tambahan pada masalah ini, saya cek sisa ruang harddisk pada drive C (walau tidak ada hubungan dengan pemecahan masalah) masih lega, 11 giga. Yang pasti ini bukan perbuatan virus !

Untuk menjaga sistem operasi Windows berjalan dengan baik, saya menggunakan aplikasi Advanced System Care (dulu bernama Advanced Windows Care). Namun ketangguhan aplikasi tersebut tidak manjur lagi. Ada yang bisa menerangkan kepada saya tentang fenomena ini ?


Note :

Artikel ini ditulis menggunakan OxygenOffice based on OpenOffice.org versi 3.0.1.

Kejadian ini membuat saya yakin akan kebenaran dari tulisan pada jaket pengemudi motor di kota Bandung yang bertuliskan “It's raining. It's time for us to close our Windows”.

Rabu, 2009 Mei 20

Kelebihan OxygenOffice 3

Silakan kunjungi link berikut http://www.softpedia.com/get/Office-tools/Office-suites/OpenOfficeorg-Premium.shtml
Here are some key features of "OxygenOffice Professional":
· SVG support
· 3D transitions
· Rich fields support
· Startup performance
· Unix systray quick-starter
· Calc solver
· Improved Excel interoperability
· VBA support
· Mono integration
· GStreamer integration
· Text Grid rendering
· Improved EMF rendering
· MS-Works import
· WordPerfect Graphics import
· Lotus Word Pro import

Dowlnload dulu ah...

Senin, 2009 Mei 18

Kemajuan Teknologi Membuat PC Kantor Layaknya Server dan Game Center

Ini berdasarkan pemikiran pribadi serta kemajuan kecepatan teknologi prosesor yang sejalan dengan Hukum Moore. Kalau ditilik jauh kebelakang laptop yang saya gunakan 2 tahun ini, mengadopsi teknologi server. Laptop Acer Aspire 5052ANWXMi dengan prosesor AMD Turion 64 Mobile Technology (2,2 Ghz, 512 kb L2 cache), memori 1 Gb, VGA ATI Radeon Xpress 1100 128 Mb, HDD 80 Gb.

Untuk kondisi sekarang ini laptop saya pun bisa digunakan sebagai server mini layaknya Mac Mini Colocation yang memiliki spesifikasi HDD 120Gb (320Gb), 2Gb DDR3, nVidia Geforce 9400M, Superdrive 8x, dengan harga Rp8.299.000,00. Harga tersebut belum termasuk OS MacOs X Server Edition 10.5.4 (retail) dengan harga Rp7.499.000,00. Total harga perolehan Rp15.798.000,00. Saya tidak tahu apakah Mac Mini Colocation tersebut bisa juga diinstall OS Linux seperti Ubuntu Server Edition – SLES – RHEL – Mandriva Server – Slackware – dll.

Bagaimana dengan spesifikasi PC kantor ?

PC kantor (merk terkenal) memiliki spesifikasi prosesor Intel DuoCore 3Ghz, 2Gb DDR2, 150Gb HDD, VGA Intel onboard 128Mb, DVD Rom (sayangnya bukan DVD writer), floopy drive yang tetap dipertahankan, monitor 17” flatscreen. Hardware segarang itu (ter-install Windows XP SP2 OEM) memang lebih cocok digunakan sebagai server dalam arti sebenarnya (untuk kelas bawah dan menengah) atau sebagai PC Game. Minimal PC tersebut cocok untuk memainkan Wining Eleven 2009 (PES) atau Counter Strike (Ground Zero) atau Age of Empire III (apalagi AoE II) atau Need for Speed Underground atau Need for Speed Carbon atau Need for Speed Undercover, Prince of Persia, dll.

Bagaimana dengan kebutuhan perkantoran ?

Pekerjaan perkantoran sebagian besar bisa diselesaikan dengan baik dan cepat dengan menggunakan Microsoft Office 2003 atau Microsoft Office 2007 (dengan pertimbangan Excel yang memiliki jumlah baris dan kolom yang banyak, serta Powerpoint untuk kebutuhan presentasi yang menarik) atau OpenOffice 3.0 (saya lebih suka memilih Oxygen Office yang Extended-Open-Free). Kebutuhan hardware untuk kedua aplikasi tersebut tidaklah membutuhkan jenis kelas tinggi dan cepat dengan alasan sekarang adalah zaman yang serba cepat.

Secepat apapun hardware yang kita gunakan tidak sejalan dengan meningkatnya kecepatan proses pengolahan data pada aplikasi office.

Buktikan saja.

Atau coba saja kita mengerjakan pekerjaan kantor pada spreadsheet (Excel atau Calc) dimana mebutuhkan lembar kerja lebih dari 1 (worksheet) dan seluruhnya terhubung satu sama lain dengan rumus. Apa yang terjadi ?

Pengalaman saya membuktikan bahwa pengolahan data tersebut pada PC kantor yang “supercepat” dan hebat tersebut tetap membutuhkan waktu yang “lama” (dalam hitungan detik hingga menit, tergantung banyaknya data yang diolah). Jadi kuncinya ada pada software aplikasi office itu sendiri yang tidak semaju dan membutuhkan jenis hardware yang cepat seperti pada aplikasi game.

Semakin melebihi kapasitas minimum hardware pada aplikasi game sungguh terasa perbedaan yang mencolok, misalnya pergerakan layar permainan yang mulus dan tidak patah-patah, kualitas tampilan grafik yang semakin nyata dan lain-lain.

Bahasa saya sih, pekerjaan kantor yang sebenarnya hanya butuh kendaraan massal ber-merk Toyota Avanza – Daihatsu Xenia, tapi kita diberikan kendaraan ekslusif berkecepatan tinggi seperti Toyota Fortuner atau Toyota Landcruiser. Pekerjaan sih memang sama-sama selesai, hanya saja bila dibandingkan dengan kebutuhan sebenarnya malah terasa mubazir.

Namun saya juga tidak bisa menyalahkan kantor yang telah berbaik hati menyediakan PC berkecepatan tinggi tersebut untuk digunakan. Karena pada masa kini, pc tersebut adalah yang memiliki spesifikasi minimum yang ada dipasaran. Sekali lagi ini adalah dampak dari kemajuan teknologi yang sangat pesat. Hanya saja saking pesatnya kemajuan malah berdampak dihentikannya produksi hardware yang lampau sehingga saya tidak bisa memperoleh harddisk laptop yang berjenis ATA dengan kapasitas 150Gb. Kalaupun ada memiliki harga yang sangat tinggi bahkan melebihi harga harddisk SATA dengan daya simpan yang lebih besar.

Ya sudah, mari kita gunakan pc tersebut untuk keperluan sebenarnya. Pas diwaktu istirahat dan pulang kerja tidak ada salahnya saya mengubahnya menjadi “PC Game”.

Setuju dengan saya ?

Jumat, 2009 Mei 15

DRAGON PLAYER


Aplikasi Pemutar DVD Yang Tangguh

Bagi pengguna GNU/Linux, aplikasi pemutar VCD-DVD yang umum adalah MPlayer-Xine-Kaffeine-Totem. Sedangkan pada operating system Windows kita mengenal Windows Media Player (tetap membutuhkan file tambahan untuk dapat memutar DVD) - Sonic Player - PowerDVD - DivX - dll.

Sebenarnya saya sendiri menemukan aplikasi ini secara trial and error pada Ubuntu Ultimate Edition 2.1. Biasalah pemicunya adalah rasa stress karena tidak bisa memutar film bajakan DVD Punisher : War Zone pada GNU/Linux. Ketangguhan Dragon Player menyamai ketangguhan PowerDVD platform Windows. Dia bisa membaca dan menayangkan film bajakan serta menampilkan subtitlenya.

Aplikasi MPlayer-Totem-Xine "menyerah" untuk bisa memutar film tersebut. Kalaupun bisa menampilkan gambar dengan baik, namun subtitle tidak bisa ditayangkan. Keunggulan lain dari Dragon Player ini bisa memutar ekstensi file default Windows (wmv). Lengkap sudah fitur yang tersedia pada Dragon Player.
Semoga info ini bermanfaat.

Kamis, 2009 Mei 14

PUNISHER : WAR ZONE

Film Tersadis Yang Pernah Saya Saksikan

Punisher, salah satu judul komik aksi yang mewarnai hidup masa kecil hingga awal masuk kerja. Saya akui, komik tersebut bukan merupakan komik favorit dibanding koleksi saya akan komik DC seperti Superman – Batman – Justice League. Bila disimak lebih lanjut, karakter komik besutan Marvel lebih sering mengedepankan jagoan yang lebih bersifat manusia biasa (malah kondisinya miskin seperti Spiderman), namun belum tentu bersifat manusiawi.

Salah satunya adalah Punisher ini. Dia adalah jagoan manusia biasa, terlahir akibat keluarganya dibantai habis oleh penjahat (mafia). Namun tindakan pembantaian keluarganya tersebut malah melahirkan manusia yang tidak berbelas kasih. Dia tega membantai orang jahat walau orang tersebut telah meminta ampun (bukan sekedar meminta maaf) dengan cara yang cepat-tepat-efisien dan sadis.

Karena dia manusia biasa (namun dibeberapa seri Marvel, Punisher juga dipertemukan dengan karakter Spiderman dan Wolverine), persenjataannya pun tidak ada yang serba wah seperti karakter IronMan atau Batman.

Seluruh senjata Punisher ada di dunia normal, seperti M16, pistol FN, Colt, Magnum, Bareta, dsb. Dia mahir menggunakan senjata tersebut untuk membunuh (tidak hanya melumpuhkan saja seperti Superman – Spiderman).

Begitu menyaksikan Film Punisher kedua ini (seri pertamanya kurang sukses dipasaran, padahal sudah diperkuat oleh John Travolta), saya benar-benar kaget dan susah untuk menikmatinya. Walau film ini sebenarnya memuaskan selera saya akan film full aksi yang tidak didukung spesial efek komputer layaknya manusia terbang dan lain-lain. Seluruh film dipenuhi aksi laga tembak menembak, dan dihiasi sedikit aksi pukul untuk menonjolkan sifat manusia biasa.

Film ini tidak menahan apa yang tabu untuk dipertontonkan pada khalayak umum seperti kepala terpenggal, tangan-kaki terputus, menembak kepala dalam jarak dekat dan kamera menyorot dalam jarak close up. Tubuh manusia hancur lebur dihantam senjata peluncur roket, perkataan kotor yang sangat sering terucap. Bahkan pada saat ajal menjemput pun, tokoh utama antagonis tidak ditampilkan penyesalan atau kata tobat. Dan “penyelesaian” tokoh utama Antagonis dilakukan dengan cara “spesial”. Yaitu barbeque alias dibakar hidup-hidup.

GILA !!!

Atmosfir film Punisher : War Zone, sangat berbeda jauh dengan Punisher pertama. Sekedar Info, Punisher yang saya maksudkan adalah film Punisher masa tahun 2000-an. Sebab sebelumnya Punisher sudah pernah dibuat dengan pemerannya Dolph Lunggren (dan tidak sukses juga).

Punisher : War Zone mengingatkan saya akan nuansa kota Gotham yang kelam (Punisher ini beroperasi di New York), humor gelap ala Joker (musuh bebuyutan Batman yang diperankan baik oleh Heather Ledger), dan kekerasan yang terlalu diumbar seperti dalam film The Crow (versi pertama yang diperankan Brandon Lee).

Untuk pemeran utama Punisher sepertinya tidak perlu repot untuk menghafal dialog naskah, karena 80% film ini hanya mengumbar aksi. Acung jempol pula untuk Ray Stevenson (pemeran utamanya) karena karakter wajah Punisher yang penuh tekanan (stress), sedih, tidak bisa tersenyum, dapat diperankan dengan baik. Bahkan peran Punisher menangis diperankan dengan baik.

Nasehat saya, jangan ajak anak kita untuk menyaksikan film ini.

Selasa, 2009 April 28

Setiap Harga Produk Apple, Memang Mahal

Membaca tulisan pada bagian Spotlight oleh Niko Radityo di majalah bulanan Macworld Indonesia, saya tersenyum sendiri. Tulisan tersebut berjudul :
Does Mac Equals Price Tag ?
Mahal? Murah? Yang mana yang benar?
Saya mencoba menuangkan kesimpulan saya dari sudut pandang pribadi, dimana saya diposisikan sebagai konsumen atau user (walau hingga kini tidak ada satupun produk Apple yang saya miliki).
Tulisan Niko Radityo diawali akan iklan Microsoft yang menunjukkan perbandingan secara langsung harga “Mac” dan “PC”. Dalam iklan berdurasi 1 (satu) menit, ada seorang gadis yang mencari laptop 15“ dengan dana di bawah $1,000.00. Alhasil setelah memasuki Apple Store, apa yang diinginkan gadis tersebut tidak diperoleh. Setelah memasuki toko lain, ia membawa pulang sebuah laptop bermerek HP dengan layar 17” dengan harga sekitar $700.00.
Tentunya iklan tersebut melahirkan banyak kontroversi, khususnya dari pengguna Apple sejati.
Tanggapan yang sempat mencuat akan iklan tersebut diantaranya perbandingan spesifikasi hardware yang jauh berbeda antara kedua laptop dan kelengkapan aplikasi yang ada. Saya akui, setiap laptop Mac Book yang dijual telah disertakan aplikasi yang “super lengkap”. iWork disediakan secara default, demikian juga dengan iLife.
Kedua aplikasi tersebut bertaraf profesional, dan harganya pun masuk kelas “Premium” (kalau di Indonesia istilahnya Pertamax, hehehe...). Banyak musik dari penyanyi terkenal terlahir dari kreatifitas mereka mengoprek melalui Garage Band (bagian dari iLife). Dan ini yang belum bisa dikejar oleh Windows, apalagi GNU/Linux. Tapi untuk urusan visual efek pada bidang video atau film, tidak banyak yang tahu kalau GNU/Linux sudah turut andil di dalamnya.
Kembali ke permasalahan.

Berikut alasan saya memilih laptop HP pada kasus di atas :
PERTAMA
Prosesor AMD 64 Turion X2, clock speed 2,1 Ghz, termasuk prosesor kelas premium (kecepatan AMD 64 Turion X2 sangat jauh di atas Intel Atom untuk NetBook). Prosesor ini memang ditujukan untuk kelas mobile (dalam hal ini laptop). Kalaupun kalah dari prosesor Intel pada MacBook (Pro) Unibody, kekalahan tersebut hanya terpaut tipis sekali (hitungan detik, atau sepersekian detik, bukan dalam hitungan menit). Dan saya tidak rela menghabiskan uang gaji sebulan hanya untuk membeli teknologi dimana tidak ada perbedaan yang mencolok.
Di sini kita harus jeli dengan bujuk rayu bahasa marketing yang sangat syahdu membujuk emosi kita. Ingat akan wejangan bijak Hermawan Kertajaya dalam “Marketing in Venus”.

KEDUA
Masih masalah teknis. Kecepatan kerja prosesor yang diusung oleh pendukung Apple dalam mengolah aplikasi (seperti Adobe Photoshop, dan sebagainya) menjadi acuan perbedaan ?
Bahkan Adobe Photoshop tidak disertakan pada iWork dan iLife. Pertanyaan saya, apakah dengan adanya perbedaan kecepatan (dalam hitungan detik) tersebut membuat gagal pekerjaan ?
Saya menggunakan laptop ACER Aspire 5052 ANWXMi, prosesor AMD 64Turion Mobile Technology, clock speed 2,2 Ghz (single core), yang notabene jauh dibawah PC kantor (Lenovo) yang menggunakan prosesor Intel dual core, tetap pekerjaan saya terselesaikan sebagian besar pada laptop.
Bahkan “kreatifitas saya” terlampiaskan pada laptop yang menggunakan prosesor “lambat” seperti klaim pendukung Apple.

KETIGA
Masalah kelengkapan software bertaraf profesional. Terus terang saya hendak tertawa ketika masalah ini turut disertakan. Ingat, kreatifitas manusia sangat liar !
Hanya masalah kelengkapan default yang akhirnya turut dimasukkan sebagai unsur harga jual dijadikan alasan yang penting ?
Jawaban saya, tidak seluruh aplikasi yang ada pada Macintosh 10.5.x dibutuhkan. Aplikasi Garage Band, sangat dominan untuk para musisi. Tidak untuk kebutuhan saya.
iDVD-iFoto-iMovie tidak saya butuhkan dalam kepentingan keseharian, walau entah kapan saya akan menggunakan aplikasi ini. Banyak aplikasi serupa tersedia untuk GNU/Linux, gratis pula.
iWork 2009, masih kalah jauh dari kemampuan Microsoft Office 2003 atau 2007 (Office for Mac 2008). Jelas iWork termasuk daftar aplikasi yang tersingkir dari kehidupan saya. Belum lagi iWork yang tidak menyertakan aplikasi database. Bahkan saya lebih memilih OpenOffice.org (OxygenOffice) versi 3.0.1, karena tingkat kompabilitas aplikasi ini terhadap Microsoft Office semakin baik (perolehannya gratis, tidak berbayar). Kelemahan OpenOffice.org versi 3.0.1 masih berkutat dokumen yang menggunakan Macros. Akibatnya tampilan dokumen berantakan. Kalau begini, saya memilih membuat dokumen 100% dari OpenOffice.org (NeoOffice merupakan versi Macintosh).

KEEMPAT
Harga hardware yang “gila-gilaan”. Setiap hardware asli yang mencantumkan logo “Apel Tergigit”, harganya sangat terpaut jauh di atas hardware original dari produsen lain. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan harganya bisa terpaut jauh dari merk lain. Bahkan asesoris pun ikut-ikutan mahal. Fiuh...
Kalau masalah hardware asli Apple sudah teruji dalam lingkungan Macintosh, memangnya hardware lainnya tidak ?
Saya yakin, hardware substitusi untuk Macintosh pasti juga diadakan pengujian dari pihak produsen, walau tidak dibawahi atau disponsori langsung oleh Apple. Untungnya untuk GNU/Linux, hal ini tidak menjadi hal yang krusial. Mayoritas hardware yang ada, telah berjalan dengan baik di GNU/Linux. Kecuali hardware yang spesifik, seperti belum tersedianya driver resmi PCI card Pantech PX-500 (mobile broadband card) untuk GNU/Linux (saya menggunakan Ubuntu Ultimate Edition 2.1, based 8.10).

Atas alasan saya tersebut di atas saya menyimpulkan bahwa setiap produk Apple mahal. Apa yang dibayarkan tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Jangan terpengaruh dengan “jurus pemasaran” yang terbukti ampuh layaknya Touch of Midas (apa yang tersentuh menjadi emas).
Saran saya adalah sesuaikan uang yang akan dikeluarkan dengan kebutuhan (need), bukan terhadap keinginan (want).
Tapi kalau pihak Apple atau siapapun hendak memberi saya gratis MacBook Unibody, saya menerima dengan tangan terbuka. Hehehe...