Mahal? Murah? Yang mana yang benar?
Tulisan Niko Radityo diawali akan iklan Microsoft yang menunjukkan perbandingan secara langsung harga “Mac” dan “PC”. Dalam iklan berdurasi 1 (satu) menit, ada seorang gadis yang mencari laptop 15“ dengan dana di bawah $1,000.00. Alhasil setelah memasuki Apple Store, apa yang diinginkan gadis tersebut tidak diperoleh. Setelah memasuki toko lain, ia membawa pulang sebuah laptop bermerek HP dengan layar 17” dengan harga sekitar $700.00.
Tentunya iklan tersebut melahirkan banyak kontroversi, khususnya dari pengguna Apple sejati.
Tanggapan yang sempat mencuat akan iklan tersebut diantaranya perbandingan spesifikasi hardware yang jauh berbeda antara kedua laptop dan kelengkapan aplikasi yang ada. Saya akui, setiap laptop Mac Book yang dijual telah disertakan aplikasi yang “super lengkap”. iWork disediakan secara default, demikian juga dengan iLife.
Kedua aplikasi tersebut bertaraf profesional, dan harganya pun masuk kelas “Premium” (kalau di Indonesia istilahnya Pertamax, hehehe...). Banyak musik dari penyanyi terkenal terlahir dari kreatifitas mereka mengoprek melalui Garage Band (bagian dari iLife). Dan ini yang belum bisa dikejar oleh Windows, apalagi GNU/Linux. Tapi untuk urusan visual efek pada bidang video atau film, tidak banyak yang tahu kalau GNU/Linux sudah turut andil di dalamnya.
Kembali ke permasalahan.
Berikut alasan saya memilih laptop HP pada kasus di atas :
PERTAMA
Prosesor AMD 64 Turion X2, clock speed 2,1 Ghz, termasuk prosesor kelas premium (kecepatan AMD 64 Turion X2 sangat jauh di atas Intel Atom untuk NetBook). Prosesor ini memang ditujukan untuk kelas mobile (dalam hal ini laptop). Kalaupun kalah dari prosesor Intel pada MacBook (Pro) Unibody, kekalahan tersebut hanya terpaut tipis sekali (hitungan detik, atau sepersekian detik, bukan dalam hitungan menit). Dan saya tidak rela menghabiskan uang gaji sebulan hanya untuk membeli teknologi dimana tidak ada perbedaan yang mencolok.
Di sini kita harus jeli dengan bujuk rayu bahasa marketing yang sangat syahdu membujuk emosi kita. Ingat akan wejangan bijak Hermawan Kertajaya dalam “Marketing in Venus”.
KEDUA
Masih masalah teknis. Kecepatan kerja prosesor yang diusung oleh pendukung Apple dalam mengolah aplikasi (seperti Adobe Photoshop, dan sebagainya) menjadi acuan perbedaan ?
Bahkan Adobe Photoshop tidak disertakan pada iWork dan iLife. Pertanyaan saya, apakah dengan adanya perbedaan kecepatan (dalam hitungan detik) tersebut membuat gagal pekerjaan ?
Saya menggunakan laptop ACER Aspire 5052 ANWXMi, prosesor AMD 64Turion Mobile Technology, clock speed 2,2 Ghz (single core), yang notabene jauh dibawah PC kantor (Lenovo) yang menggunakan prosesor Intel dual core, tetap pekerjaan saya terselesaikan sebagian besar pada laptop.
Bahkan “kreatifitas saya” terlampiaskan pada laptop yang menggunakan prosesor “lambat” seperti klaim pendukung Apple.
KETIGA
Masalah kelengkapan software bertaraf profesional. Terus terang saya hendak tertawa ketika masalah ini turut disertakan. Ingat, kreatifitas manusia sangat liar !
Hanya masalah kelengkapan default yang akhirnya turut dimasukkan sebagai unsur harga jual dijadikan alasan yang penting ?
Jawaban saya, tidak seluruh aplikasi yang ada pada Macintosh 10.5.x dibutuhkan. Aplikasi Garage Band, sangat dominan untuk para musisi. Tidak untuk kebutuhan saya.
iDVD-iFoto-iMovie tidak saya butuhkan dalam kepentingan keseharian, walau entah kapan saya akan menggunakan aplikasi ini. Banyak aplikasi serupa tersedia untuk GNU/Linux, gratis pula.
iWork 2009, masih kalah jauh dari kemampuan Microsoft Office 2003 atau 2007 (Office for Mac 2008). Jelas iWork termasuk daftar aplikasi yang tersingkir dari kehidupan saya. Belum lagi iWork yang tidak menyertakan aplikasi database. Bahkan saya lebih memilih OpenOffice.org (OxygenOffice) versi 3.0.1, karena tingkat kompabilitas aplikasi ini terhadap Microsoft Office semakin baik (perolehannya gratis, tidak berbayar). Kelemahan OpenOffice.org versi 3.0.1 masih berkutat dokumen yang menggunakan Macros. Akibatnya tampilan dokumen berantakan. Kalau begini, saya memilih membuat dokumen 100% dari OpenOffice.org (NeoOffice merupakan versi Macintosh).
KEEMPAT
Harga hardware yang “gila-gilaan”. Setiap hardware asli yang mencantumkan logo “Apel Tergigit”, harganya sangat terpaut jauh di atas hardware original dari produsen lain. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan harganya bisa terpaut jauh dari merk lain. Bahkan asesoris pun ikut-ikutan mahal. Fiuh...
Kalau masalah hardware asli Apple sudah teruji dalam lingkungan Macintosh, memangnya hardware lainnya tidak ?
Saya yakin, hardware substitusi untuk Macintosh pasti juga diadakan pengujian dari pihak produsen, walau tidak dibawahi atau disponsori langsung oleh Apple. Untungnya untuk GNU/Linux, hal ini tidak menjadi hal yang krusial. Mayoritas hardware yang ada, telah berjalan dengan baik di GNU/Linux. Kecuali hardware yang spesifik, seperti belum tersedianya driver resmi PCI card Pantech PX-500 (mobile broadband card) untuk GNU/Linux (saya menggunakan Ubuntu Ultimate Edition 2.1, based 8.10).
Atas alasan saya tersebut di atas saya menyimpulkan bahwa setiap produk Apple mahal. Apa yang dibayarkan tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Jangan terpengaruh dengan “jurus pemasaran” yang terbukti ampuh layaknya Touch of Midas (apa yang tersentuh menjadi emas).
Saran saya adalah sesuaikan uang yang akan dikeluarkan dengan kebutuhan (need), bukan terhadap keinginan (want).
Tapi kalau pihak Apple atau siapapun hendak memberi saya gratis MacBook Unibody, saya menerima dengan tangan terbuka. Hehehe...



Mungkin sudah pada maklum kalau Ubuntu (demikian juga dengan Suse 9.2 hingga sekarang) ini tidak menyertakan file pendukung multimedia untuk mp3 dan pemutar dvd, karena masalah perlakuan lisensi pada masing-masing negara. Kecuali kita menggunakan distro turunan Ubuntu yang telah menyediakan segala kebutuhannya, seperti Racix Jamu Pegel Linux (Ubuntu 8.04) – Ubuntu Ultimate Edition – Ubuntu Muslim Edition – Ubuntu Crist Edition – dan lain sebagainya
Akan tampak menu utama seperti gambar di samping. Karena kita akan melakukan konversi ke format dvd, maka pilihlah tombol teratas yaitu Video DVD.
Langkah yang sangat memakan waktu adalah konversi format file, untuk 2 file saja membutuhkan waktu hingga 60 menit pada laptop. Proses ini akan dilakukan bertahap sebanyak 7 tahapan, yang akan beralih secara otomatis tanpa perlu susah-susah kita mengatur ulang.
Penambahan file subtitle (terjemahan) tidak memakan waktu yang lama.
Pembentukan file iso merupakan langkah terakhir dari rangkaian konversi file. Pembentukan iso sangat memudahkan kita nantinya dalam mem-burning file dvd ke keping dvd kosong. Untuk pembakarannya bisa gunakan aplikasi yang sudah umum, seperti 