Selasa, 28 April 2009

Setiap Harga Produk Apple, Memang Mahal

Membaca tulisan pada bagian Spotlight oleh Niko Radityo di majalah bulanan Macworld Indonesia, saya tersenyum sendiri. Tulisan tersebut berjudul :
Does Mac Equals Price Tag ?
Mahal? Murah? Yang mana yang benar?
Saya mencoba menuangkan kesimpulan saya dari sudut pandang pribadi, dimana saya diposisikan sebagai konsumen atau user (walau hingga kini tidak ada satupun produk Apple yang saya miliki).
Tulisan Niko Radityo diawali akan iklan Microsoft yang menunjukkan perbandingan secara langsung harga “Mac” dan “PC”. Dalam iklan berdurasi 1 (satu) menit, ada seorang gadis yang mencari laptop 15“ dengan dana di bawah $1,000.00. Alhasil setelah memasuki Apple Store, apa yang diinginkan gadis tersebut tidak diperoleh. Setelah memasuki toko lain, ia membawa pulang sebuah laptop bermerek HP dengan layar 17” dengan harga sekitar $700.00.
Tentunya iklan tersebut melahirkan banyak kontroversi, khususnya dari pengguna Apple sejati.
Tanggapan yang sempat mencuat akan iklan tersebut diantaranya perbandingan spesifikasi hardware yang jauh berbeda antara kedua laptop dan kelengkapan aplikasi yang ada. Saya akui, setiap laptop Mac Book yang dijual telah disertakan aplikasi yang “super lengkap”. iWork disediakan secara default, demikian juga dengan iLife.
Kedua aplikasi tersebut bertaraf profesional, dan harganya pun masuk kelas “Premium” (kalau di Indonesia istilahnya Pertamax, hehehe...). Banyak musik dari penyanyi terkenal terlahir dari kreatifitas mereka mengoprek melalui Garage Band (bagian dari iLife). Dan ini yang belum bisa dikejar oleh Windows, apalagi GNU/Linux. Tapi untuk urusan visual efek pada bidang video atau film, tidak banyak yang tahu kalau GNU/Linux sudah turut andil di dalamnya.
Kembali ke permasalahan.

Berikut alasan saya memilih laptop HP pada kasus di atas :
PERTAMA
Prosesor AMD 64 Turion X2, clock speed 2,1 Ghz, termasuk prosesor kelas premium (kecepatan AMD 64 Turion X2 sangat jauh di atas Intel Atom untuk NetBook). Prosesor ini memang ditujukan untuk kelas mobile (dalam hal ini laptop). Kalaupun kalah dari prosesor Intel pada MacBook (Pro) Unibody, kekalahan tersebut hanya terpaut tipis sekali (hitungan detik, atau sepersekian detik, bukan dalam hitungan menit). Dan saya tidak rela menghabiskan uang gaji sebulan hanya untuk membeli teknologi dimana tidak ada perbedaan yang mencolok.
Di sini kita harus jeli dengan bujuk rayu bahasa marketing yang sangat syahdu membujuk emosi kita. Ingat akan wejangan bijak Hermawan Kertajaya dalam “Marketing in Venus”.

KEDUA
Masih masalah teknis. Kecepatan kerja prosesor yang diusung oleh pendukung Apple dalam mengolah aplikasi (seperti Adobe Photoshop, dan sebagainya) menjadi acuan perbedaan ?
Bahkan Adobe Photoshop tidak disertakan pada iWork dan iLife. Pertanyaan saya, apakah dengan adanya perbedaan kecepatan (dalam hitungan detik) tersebut membuat gagal pekerjaan ?
Saya menggunakan laptop ACER Aspire 5052 ANWXMi, prosesor AMD 64Turion Mobile Technology, clock speed 2,2 Ghz (single core), yang notabene jauh dibawah PC kantor (Lenovo) yang menggunakan prosesor Intel dual core, tetap pekerjaan saya terselesaikan sebagian besar pada laptop.
Bahkan “kreatifitas saya” terlampiaskan pada laptop yang menggunakan prosesor “lambat” seperti klaim pendukung Apple.

KETIGA
Masalah kelengkapan software bertaraf profesional. Terus terang saya hendak tertawa ketika masalah ini turut disertakan. Ingat, kreatifitas manusia sangat liar !
Hanya masalah kelengkapan default yang akhirnya turut dimasukkan sebagai unsur harga jual dijadikan alasan yang penting ?
Jawaban saya, tidak seluruh aplikasi yang ada pada Macintosh 10.5.x dibutuhkan. Aplikasi Garage Band, sangat dominan untuk para musisi. Tidak untuk kebutuhan saya.
iDVD-iFoto-iMovie tidak saya butuhkan dalam kepentingan keseharian, walau entah kapan saya akan menggunakan aplikasi ini. Banyak aplikasi serupa tersedia untuk GNU/Linux, gratis pula.
iWork 2009, masih kalah jauh dari kemampuan Microsoft Office 2003 atau 2007 (Office for Mac 2008). Jelas iWork termasuk daftar aplikasi yang tersingkir dari kehidupan saya. Belum lagi iWork yang tidak menyertakan aplikasi database. Bahkan saya lebih memilih OpenOffice.org (OxygenOffice) versi 3.0.1, karena tingkat kompabilitas aplikasi ini terhadap Microsoft Office semakin baik (perolehannya gratis, tidak berbayar). Kelemahan OpenOffice.org versi 3.0.1 masih berkutat dokumen yang menggunakan Macros. Akibatnya tampilan dokumen berantakan. Kalau begini, saya memilih membuat dokumen 100% dari OpenOffice.org (NeoOffice merupakan versi Macintosh).

KEEMPAT
Harga hardware yang “gila-gilaan”. Setiap hardware asli yang mencantumkan logo “Apel Tergigit”, harganya sangat terpaut jauh di atas hardware original dari produsen lain. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan harganya bisa terpaut jauh dari merk lain. Bahkan asesoris pun ikut-ikutan mahal. Fiuh...
Kalau masalah hardware asli Apple sudah teruji dalam lingkungan Macintosh, memangnya hardware lainnya tidak ?
Saya yakin, hardware substitusi untuk Macintosh pasti juga diadakan pengujian dari pihak produsen, walau tidak dibawahi atau disponsori langsung oleh Apple. Untungnya untuk GNU/Linux, hal ini tidak menjadi hal yang krusial. Mayoritas hardware yang ada, telah berjalan dengan baik di GNU/Linux. Kecuali hardware yang spesifik, seperti belum tersedianya driver resmi PCI card Pantech PX-500 (mobile broadband card) untuk GNU/Linux (saya menggunakan Ubuntu Ultimate Edition 2.1, based 8.10).

Atas alasan saya tersebut di atas saya menyimpulkan bahwa setiap produk Apple mahal. Apa yang dibayarkan tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Jangan terpengaruh dengan “jurus pemasaran” yang terbukti ampuh layaknya Touch of Midas (apa yang tersentuh menjadi emas).
Saran saya adalah sesuaikan uang yang akan dikeluarkan dengan kebutuhan (need), bukan terhadap keinginan (want).
Tapi kalau pihak Apple atau siapapun hendak memberi saya gratis MacBook Unibody, saya menerima dengan tangan terbuka. Hehehe...

Senin, 13 April 2009

IBM Lotus Symphony Versi 1.2.0 (Revision 17 Februari 2009)

Pada tulisan terdahulu, saya pernah mengulas singkat office suite besutan IBM yaitu Lotus Symphony versi 1.0. Pertama kali mencoba saya menggunakan platform Windows yang ada di DVD Bonus Majalah Bulanan PC Media. Karena tingginya spesifikasi hardware yang dibutuhkan sekedar untuk bekerja atas aplikasi ini, serta rendahnya versi inti aplikasi yang digunakan (masih menggunakan OpenOffice.org versi 1.4), saya memutuskan berhenti menggunakannya. Padahal pada situs resmi OpenOffice.org sudah tersedia versi 2.x.x.

Tulisan kali ini saya mencoba kembali IBM Lotus Symphony versi 1.2.0 edisi revisi 17 Februari 2009 (pada saat tulisan ini dibuat, versi 1.2.1 khusus Macintosh sudah tersedia).

Perbandingan favorit saya untuk aplikasi perkantoran yang ada adalah File – Page Setup atau Format – Page. Perbandingan yang sederhana awalnya, namun sangat vital pada saat pembuatan dokumen. Khususnya masalah kebiasaan.

Masih bingung ?

Sekedar mengingatkan, dimanakah bila kita ingin mengubah ukuran kertas atau mengubah batas kanan-kiri-atas-belakang pada aplikasi olah kata (word prosesor) ?

Selanjutnya saya suka membandingkan bagaimana kemudahan dalam penampilan nomor halaman dokumen (page number).

Pada Lotus Symphony, penomoran halaman ini terletak pada menu Create – Page Numbering. Sedangkan pada Office 2003 (yang masih saya gunakan) terletak pada Insert – Page Number. Lengkap dengan pilihan apakah dimulai dari angka 1 atau tidak. Selanjutnya masalah format penomorannya apakah berupa angka arab atau angka romawi.

Sayangnya, Masalah penomoran halaman ini, Lotus Symphony masih mewarisi “keruwetan” dari OpenOffice.org.

Perbandingan ketiga adalah masalah equation editor atau bahasa mudahnya fitur untuk penulisan rumus matematika pada aplikasi pengolah kata. Kalau di OpenOffice.org, fitur ini ada pada OpenOffice Math. Bagaimana dengan Lotus Symphony ?

Aplikasi ini tidak tersedia secara default. Hehehe... keren amat bahasanya.... default. Yang kalau diartikan, default itu adalah asli bawaan. Bukan keturunan, lho.

Sebenarnya tidak hanya IBM Lotus Symphony saja yang tidak menyediakannya. Abiword-pun sama. Kita harus download plugin equation editor di situs resminya. Ribet bener, khan ?

Perlu diakui, keperluan saya dalam penulisan rumus matematika sangat jarang sekali, atau boleh dikatakan tidak pernah sejak saya menulis skripsi. Karena pengalaman saya dalam mengantisipasi kebutuhan mendadak dan kelengkapan akan suatu fitur pada aplikasi pengolah kata, tentunya hal ini tidak begitu saja dilupakan.

Masih ingat dalam ingatan saya, ketika equation editor tidak ter-install pada Office 97 – 2003 pada PC saya, sehingga saya harus bersusah payah mencari cd aplikasinya. Kalau mendesak sekali, saya terpaksa ke rental komputer, dan mendapat hadiah “virus” yang menghancurkan dokumen saya. Fiuh !!!

Perbandingan terakhir adalah bagian first line indent serta hanging indent. Pada Abiword, masalah ini sudah terpecahkan. Pergeseran kursor dipastikan “rata” dengan digit pada ruler.

Tapi pada OpenOffice.org dan Lotus Symphony tidak seperti itu. Pergeseran kursor yang terlalu “mulus” malah membuat dokumen bisa menjadi tidak rata. Kalau mau rata, kita harus melakukannya melalui Layout – Properties – Paragraph Properties. Sungguh ruwet dan tidak efisien.

Efektif ?

Jelas efektif. Tapi ya itu, ruwet.

Yang paling mengganggu pada aplikasi ini adalah terlalu sering terjadi refresh halaman pada setiap saya selesai melakukan kombinasi keyboard untuk format tulisan. Seperti kombinasi Ctrl+B atau Ctrl+B+I atau Ctrl+S, dan sebagainya.

Dari segi tampilan, perlu diacungi jempol !!!

Two Thumbs Up !!!

Hanya saja untuk kelengkapan fitur dan kemudahan lainnya, aplikasi ini masih mewarisi kelemahan dari OpenOffice.org. Mungkin masa mendatang hal tersebut bisa diselesaikan oleh IBM. Atau bisa diselesaikan terlebih dulu oleh komunitas yang tergabung pada proyek OpenOffice di bawah pengawasan Sun Microsystem.

Semoga saja.


NOTE :

File installer yang tersedia cukup variatif. Sudah tersedia untuk Windows – Macintosh – Linux (RedHat-SUSE-Ubuntu- dsb), termasuk operating system lainnya. Untuk installcommand line (walau melalui command line pun bisa saja), proses install pada Ubuntu teramat mudah layaknya pada Windows. Klik ganda pada file tanpa melalui berjalan dengan mulus.

Andai saja installer OpenOffice.org dan OxygenOffice versi 3 bisa semudah ini.


Senin, 06 April 2009

Kapan Ya, Indonesia Memiliki Badan Seperti NSA ?

Ingat dengan Film Die Hard 4.0 ?
Masih diperankan oleh Bruce Willis dan didukung oleh Justin Long (sempat menjadi aikon Apple akan produk Genius Mac) dan Magie Q. Gue akuin, film ini memenuhi akan kegemaran techno action. Bahkan ketegangan Mission Impossible III (Tom Cruise), lewat abis!!!
Selain itu, film serial televisi kegemaran pun (Chuck), menyentuh bagian yang sama dengan Die Hard 4.0. Apakah itu ?
Jawabannya adalah Badan Nasional Keamanan Amerika alias NSA.
Coba saja baca profil NSA di link yang ada.
Asli keren.
Walau segala kelebihan tersebut, masih saja bisa dipecundangi oleh beberapa pihak. Sebut saja kejadian 9/11 yang merenggut ribuan jiwa.
Komunikasi tercanggih dikelola oleh NSA. Mereka pun "halal" dalam melakukan penyadapan (di Indonesia, lebih dikenal sebagai aksi KPK), baik via telepon-internet-radio-satelit. Bahkan dalam serial televisi 24 (Kiefer Sutherlan), NSA memiliki satelit mata-mata tercanggih yang ada.
Selain masalah penyadapan, NSA pun bergerak dibidang kriptografi alias masalah penjagaan informasi (ilmunya dinamakan kriptoanalisis). Entah benar atau tidak, segala informasi kependudukan-keuangan-dan sebagainya, terdata di server NSA (Woodlawn kalo di Die Hard 4.0).
Yah setidaknya, Amerika tidak menemui masalah serumit di Indonesia mengenai jumlah penduduk yang bisa mengikuti PEMILU-PILKADA-dan sebagainya. Apalagi mengenai penduduk yang telah meninggal namun tetap terdata sebagai peserta PEMILU-PILKADA. Hiiii..... syyeeeerrreeemmmm.
Dan gaung Single Identity Number-pun (SIN) sudah semakin redup.
Sepertinya semakin susah bagi Pemerintah dalam melakukan pendataan penduduk dan potensi ekonomi yang ada.
Yah semoga pada PEMILU kali ini, tata kelola pemerintahan semakin baik (good goverment governance), sehingga kemakmuran rakyat meningkat (tidak terkonsentrasi pada segelintir orang), sehingga mampu meningkatkan kejayaan bangsa ini yang sudah sering kali "dihina" oleh negara tetangga.
AMIN.

Maju Bangsaku !!!

Sabtu, 04 April 2009

Kok, Saya Belum Menerima Kartu Peserta Pemilih, ya ?

Sekarang pukul 20.41 WIB, tanggal 4 April 2009.

Lima hari lagi, seluruh rakyat Indonesia (kecuali NTT yang diundur pelaksanannya) akan mengikuti perhelatan akbar untuk kelangsungan berbangsa dan bernegara. Yaitu PEMILU (Pemilihan Umum).

Biasanya, seminggu menjelang PEMILU, saya sudah menerima Kartu Peserta Pemilih. Kartu tersebut saya terima sejak tahun 1999 (setahun setelah Presiden Soeharto lengser, dan Presiden BJ Habiebie yang meneruskannya). Usut punya usut, ini juga terkait dengan “bobroknya” data kependudukan yang ada. Gampangnya, data KTP (Kartu Tanda Penduduk).

Kelemahan data kependudukan ini sangat vital dan bersifat strategis. Kalau tidak diusut tuntas, sampai kapanpun kita tidak mengetahui berapa jumlah penduduk ini pastinya. Bahkan, untuk urusan statistik yang terkait dengan PEMILU-Pilkada-BLT, akan terus muncul ketidakberesan.

Menurut hemat saya, PEMILU kali ini, sangat penuh tantangan. Padahal KPU sendiri keberadaannya sudah lebih dari 10 tahun. Setidaknya pengalaman 2 kali PEMILU sebelumnya bisa menjadi cerminan akan PEMILU kali ini. Tapi kenapa tidak terasa lebih lancar, ya ?????

Jangan sampai pelaksanaan PEMILU diundur !

Malam ini, salah satu Saudara saya sedang melakukan kampanye akbar di daerah Lampung.

Saudara saya tersebut berasal dari Partai Amanat Nasional (PAN), dan menjadi kandidat DPR RI, dengan nomor urut 7. Saudara saya tersebut bernama Johansyah Djamal (bukan turut sebagai simpatisan, lho).

Justeru saya ingin mengingatkan, untuk menjadi wakil rakyat, sangat berat menjaga amanat. Amanat ini akan dimintakan pertanggungjawaban dihadapan Sang Pencipta, Allah Subhanallahu Wa Ta'ala. Selama ini, saya sangat tidak simpatik terhadap wakil rakyat yang menjadikan jabatan ini sebagai PENCARIAN PENGHASILAN !!!

Hanya dengan duduk diam, hingga tertidur di kursi rapat yang empuk, para Anggota Dewan Yang Terhormat bisa menikmati fasilitas dari negara dengan nominal yang sangat besar. Memperoleh Rumah Dinas, Mobil Dinas, Tunjangan, dan sebagainya. JANGAN PERNAH TERBERSIT UNTUK MELAKUKAN KORUPSI !!!

Bangsa ini sangat butuh perwakilan yang sangat peduli dengan kebutuhan rakyatnya, dan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar (bukan hanya sebagai bangsa yang memiliki penduduk yang besar jumlahnya) dalam arti sesungguhnya. Cukup sudah bangsa ini diobok-obok oleh bangsa yang mendiktekan kehendak mereka untuk kepentingan bangsa asing (lihat saja Kasus Freeport !!!).

Cukup sudah bangsa ini dihisap habis kekayaan alamnya, bahkan batas negara pun dibuat menjadi kabur. Padahal, batas negara ini membuktikan kedaulatan dari suatu hak seluruh rakyat yang dikelola oleh Pemerintah.

Cukup sudah bangsa ini melakukan ekspor Pahlawan Devisa (kalau tidak ingin dibilang TKI !!!) namun perlakuan dari bangsa ini dan majikannya begitu rendah.

Cukup sudah bangsa ini memelihara aparat negara yang tidak bekerja secara profesional. Hanya memakan gaji buta tapi tidak benar dalam bekerja (alias sering bolos dan terlambat datang).

Cukup sudah bangsa ini memelihara para Hakim dan Jaksa yang bermental Korup (istilahnya Mafia Peradilan). Padahal mereka membawa wewenang Keadilan dari Sang Pencipta Yang Maha Adil. Dan saya tidak bisa membayangkan siksaan yang akan mereka terima di akhirat kelak.


Masa depan bangsa ini memang ada di tangan kita. Jangan sampai salah memilih.


Maju Bangsaku !!!

Rabu, 01 April 2009

Konversi File Video Internet (avi) ke Format DVD (mpeg)

Saya memiliki file video internet (avi) atas serial televisi “Chuck”.
Bagi yang belum mengetahui apa itu “Chuck”, silakan mengunjugi situs NBC dan mencari tahu serial tersebut. Namun bagi yang berlangganan televisi berbayar yang ada di negeri ini, dan sering menyaksikan tayangan AXN pada hari Senin malam (sewaktu serial ini masih diputar), pasti sebagian besar sudah tahu.

Untuk menyaksikan film tersebut pada dvd player yang belum mendukung mp4 atau teknologi DivX, jangan harap bisa. Kecuali kita memutarnya pada PC yang sudah ter-install aplikasi codec mp4 atau DivX.
Koleksi film Chuck yang saya punya adalah musim kedua (Season Two), yang juga masih diputar di Amerika. Pada artikel ini dibuat, Chuck sudah memasuki episode 17 (biasanya mencapai 24 episode per musim).

Untuk bisa memutar pada perangkat saya, sudah dipastikan harus mengubah file tersebut ke format dvd. Dan aplikasi yang digunakan adalah DeVeDe pada Ubuntu 8.10 (aplikasi ini sudah tersedia pada Ubuntu versi sebelumnya). Yang harus diperhatikan sebelum melakukan konversi ini, pastikan seluruh file pendukung atau repository Ubuntu telah ter-install.

Mungkin sudah pada maklum kalau Ubuntu (demikian juga dengan Suse 9.2 hingga sekarang) ini tidak menyertakan file pendukung multimedia untuk mp3 dan pemutar dvd, karena masalah perlakuan lisensi pada masing-masing negara. Kecuali kita menggunakan distro turunan Ubuntu yang telah menyediakan segala kebutuhannya, seperti Racix Jamu Pegel Linux (Ubuntu 8.04) – Ubuntu Ultimate Edition – Ubuntu Muslim Edition – Ubuntu Crist Edition – dan lain sebagainya

Baiklah, kita mulai saja konversi ini.

Aktifkan aplikasi DeVeDe di Applications – Sound & Video – DeVeDe.

Akan tampak menu utama seperti gambar di samping. Karena kita akan melakukan konversi ke format dvd, maka pilihlah tombol teratas yaitu Video DVD.

Selanjutnya akan tampak menu lanjutan seperti gambar di bawah.

Pada bagian Title 1 bisa kita ubah dengan judul bab (chapter) yang diinginkan, hanya dengan klik tombol Properties. Misal diubah menjadi Chuck Episode 4 Season 2. Pada jendela Files, klik Add lalu arahkan ke file avi berada.

Seperti biasa, 1 keping dvd (khususnya bajakan) mampu memuat lebih dari 1 film (kompilasi). Dengan aplikasi DeVeDe ini, kita pun bisa melakukan hal tersebut. Tinggal tambahkan Titles selanjutnya dengan klik Add, dan ubah saja judul bab tersebut.

Setiap penambahan file avi, akan mengubah ruang kosong pada keping dvd. Ini bisa dilihat pada bagian Disc usage (Media size). File avi dengan pemutaran waktu 42 menit, bisa memakan ruang kosong dvd sebanyak 1,5 Gb.Lalu bagaimana bila kita ingin memasukkan 4 file avi (atau 4 judul film) ke keping dvd tersebut ?

Mudah saja, bila ruang kosong sudah semakin kecil, klik saja tombol Adjust disc usage. Maka dengan otomatis akan tersedia ruang kosong yang memadai. Lakukan hal ini berulang kali hingga 4 file tersebut masuk seluruhnya.

Untuk Default format dvd, tetap pilih saja PAL (format kebanyakan di Asia), dan sayangnya aplikasi DeVeDe ini belum bisa memuat kedua format dalam 1 keping (beda sekali dengan aplikasi komersil yang sudah mengakomodir hal ini).

Klik menu Advanced options, dan tetap pertahankan pilihan yang ada (default). Selanjutnya klik tombol Forward. Arahkan ke file subtitle yang sudah tersedia (bila ada). Proses akan berjalan seperti gambar di bawah.

Langkah yang sangat memakan waktu adalah konversi format file, untuk 2 file saja membutuhkan waktu hingga 60 menit pada laptop. Proses ini akan dilakukan bertahap sebanyak 7 tahapan, yang akan beralih secara otomatis tanpa perlu susah-susah kita mengatur ulang.

Penambahan file subtitle (terjemahan) tidak memakan waktu yang lama.

Pembentukan file iso merupakan langkah terakhir dari rangkaian konversi file. Pembentukan iso sangat memudahkan kita nantinya dalam mem-burning file dvd ke keping dvd kosong. Untuk pembakarannya bisa gunakan aplikasi yang sudah umum, seperti Nero (untuk Windows) atau Brasero Disc Burning (Ubuntu).

Selanjutnya, silakan nikmati film Anda di pemutar dvd rumah.